Dalam artikel kali ini dari seri "Pentingnya ... dalam trading", XBTFX ingin membahas psikologi trading dan alasan mengapa menyadari bahwa Anda adalah musuh terbesar bagi diri sendiri sangat penting bagi keberhasilan Anda. Kami berencana menerbitkan serangkaian artikel seperti ini dan berharap klien akan merasakan manfaatnya.
Ada pepatah yang sangat terkenal di dunia poker: "Poker adalah cara yang sulit untuk mencari nafkah dengan mudah". Hal yang hampir sama berlaku untuk trading. Sebenarnya, kualitas yang dibutuhkan untuk sukses dalam poker dan trading sangat mirip, dan pada umumnya semuanya bermuara pada seberapa baik seseorang mengendalikan emosinya dan seberapa disiplin dirinya.
Sering kali orang terpaku pada gagasan untuk menjadi "benar". Bahkan Ray Dalio nyaris bangkrut karena melakukan short pada saham di tahun 1982. Ia begitu yakin dengan prediksinya sehingga menyuarakannya secara terbuka. Akibatnya, ia hampir bangkrut dan harus meminjam uang. Anda dapat membaca kisahnya lebih lanjut di sini.
Berikut kutipan dari artikel tersebut:
...."Pada 1982, Dalio dengan penuh percaya diri memprediksi bahwa ekonomi global menuju depresi, dan ia bertransaksi sesuai prediksi itu.
"Saya salah besar … Pasar saham mulai melaju dalam reli bullish yang besar, dan selama delapan belas tahun berikutnya ekonomi AS menikmati periode pertumbuhan tanpa inflasi terbaik sepanjang sejarahnya," tulisnya dalam bukunya yang berjudul "Principles: Life and Work", yang terbit pada hari Selasa.
"Pengalaman saya selama periode ini terasa seperti rentetan pukulan tongkat bisbol ke kepala. Salah sebesar itu – apalagi salah di hadapan publik – sungguh merendahkan hati dan membuat saya kehilangan hampir semua yang telah saya bangun di Bridgewater," tambahnya.
Akibat kerugian tersebut, sang investor terpaksa memberhentikan seluruh karyawannya dan meminta uang kepada keluarganya.
"Saya kehilangan begitu banyak uang sehingga tidak mampu membayar orang-orang yang bekerja bersama saya. Satu per satu, saya harus merelakan mereka pergi," tulisnya. "Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya bahkan harus meminjam $4.000 dari ayah saya sampai kami bisa menjual mobil kedua kami."
Dalio mengatakan bahwa ia terlalu arogan, terlalu percaya diri, dan tidak melakukan riset historis yang cukup..."
Kisah Dalio merupakan tema yang cukup umum. Seperti yang ia uraikan, ada beberapa faktor di balik kejadian tersebut, dan semuanya bertumpu pada psikologi:
1) Arogansi
2) Terlalu percaya diri
3) Riset yang tidak memadai
Untuk mengatasi hal-hal di atas, langkah yang bijak bagi trader umumnya adalah mengambil pendekatan yang proaktif dalam manajemen risiko. Alih-alih berfokus untuk "menjadi" benar tentang suatu pergerakan, menentukan level entry dan exit yang jelas dapat menghindarkan Anda dari masalah seperti yang dialami Dalio. Bahkan, salah satu mentor kami di XBTFX pernah berkata, "tujuan utama trading bukanlah menghasilkan profit, melainkan menjaga modal".
Trader perlu ingat bahwa tidak punya posisi juga merupakan sebuah posisi. Tidak ada yang menodongkan pistol ke kepala Anda agar Anda membuka transaksi setiap hari. Sebagai pedoman praktis, perlu diingat bahwa membuka transaksi hanya karena merasa harus menghasilkan profit lebih sering merupakan ide yang buruk. Transaksi harus selalu dibuka berdasarkan penilaian yang cermat dan setelah kriteria serta kondisi yang telah ditentukan sebelumnya terpenuhi sehingga menghasilkan sinyal trading yang tepat. Kami sangat menganjurkan trader untuk menetapkan level stop loss dan take profit yang jelas. Selain itu, kami memperingatkan bahaya membuka kembali posisi yang sama berulang kali setelah mengalami kerugian. Sebaliknya, setelah kerugian terjadi, praktik terbaik biasanya adalah menunggu hingga sinyal trading baru muncul. Sering kali, ketika seorang trader mencoba membuka kembali posisi yang sama setelah stop loss terpicu, ia justru terkena stop lagi dan membayar komisi dua kali.
Penting untuk diingat bahwa profit trading umumnya mengikuti prinsip Pareto, yang berarti bagi sebagian besar trader, 20% posisi mereka akan menghasilkan 80% profit.
Dalam hal ini, penting untuk diingat bahwa bagi kebanyakan orang, menghadapi transaksi yang merugi lebih menguras emosi daripada mendapatkan transaksi yang profit. Berdasarkan pengalaman kami, setelah mengalami rentetan kerugian yang buruk, alih-alih berusaha mengembalikan kerugian tersebut, pendekatan terbaik untuk setup baru adalah:
1) Ambil risiko yang lebih kecil sampai Anda merasa nyaman dengan trading Anda. Sering kali setelah rentetan kerugian, trader mencoba mengembalikan kerugian dengan mengambil risiko lebih besar, tetapi hal ini pada dasarnya sangat berbahaya. Anda menggunakan leverage yang lebih tinggi dengan modal yang lebih sedikit, yang berarti risiko kehancuran total semakin meningkat.
2) Jika seorang trader merasa sangat terbebani secara emosional, biasanya langkah yang bijak adalah beristirahat dari pasar. Tidak ada salahnya menjauh selama beberapa hari atau beberapa minggu, atau selama yang diperlukan untuk memulihkan kepercayaan diri dan keyakinan pada kemampuan Anda.
3) Ingatlah bahwa kerugian adalah bagian dari pekerjaan ini, dan terimalah. Setiap transaksi hanyalah satu titik data dalam rangkaian transaksi yang diharapkan menghasilkan kurva ekuitas yang terus naik.
Mungkin yang terpenting, kami ingin mengingatkan semua orang akan salah satu kutipan favorit kami dari Keynes: "Pasar bisa tetap irasional lebih lama daripada Anda bisa tetap solvabel."
Jadi, pandangan kami sederhana: jangan terlalu terikat pada sebuah posisi, jangan menggunakan leverage berlebihan, dan buka posisi hanya atas dasar yang jelas dengan manajemen risiko yang tegas. Dalam jangka panjang, hal ini akan menjamin keberhasilan.